Cerita pertama kali gigi anak copot - Hari ini tanggal 27
april 2019, pastinya akan menjadi salah satu pengalaman yg tak terlupakan,
karena pada hari ini, gigi anak pertama saya, Rafan, tanggal alias copot.. Rafan
punya saudara kembar, namanya Ghaisan, mereka lahir tanggal 8 agustus 2014 yang
berarti usianya sekitar kurang lebih 4 tahun 8 bulan. Saat gigi rafan copot
saya agak khawatir sih sebenernya, apakah diusia segitu normal gigi anak mulai
copot? Setelah si Rafan reda nangisnya gara-gara giginya copot, pokoknya
setelah situasi kembali normal aman terkendali, hehe, saya pun mulai browsing..
Berdasarkan kasus gigi
anak saya yang copot, saya jadi tertarik untuk membahas tentang pergigian. Dimulai
dari awal tumbuhnya gigi anak pada sekitar usia 6 bulan, gigi akan tumbuh dan
lengkap mengisi sisi rahang atas dan bawah pada usia sekiar 2,5 sampai dengan 3
tahun. Gigi yang tumbuh tersebut dinamakan gigi susu dan jumlahnya sebanyak 20
buah. Set gigi susu ini akan bertahan hingga anak berusia 4,5 sampai dengan 7
tahun (rata-rata saat usia anak 6 tahun), dan kemudian akan tanggal/copot satu
persatu untuk digantikan dengan gigi dewasa atau gigi permanen. Copotnya gigi
anak, seperti telah disebutkan tadi, bisa karena copot dengan sendirinya,
penyakit gigi atau seperti pada kasus Rafan yaitu kecelakaan (gara-gara si iron man tidak sengaja nabrak
tembok.. hhmm...).
Pertanyaannya adalah
saat gigi anak mulai goyang, apakah lebih baik dibiarkan saja sampai copot sendiri
atau dibawa ke dokter gigi supaya dibantu giginya dicabut oleh dokter?
Menurut beberapa
artikel yang saya baca, saat gigi anak goyang dimungkinkan gigi baru akan
bersiap untuk tumbuh, jadi sebaiknya gigi yang goyang tersebut tidak dibiarkan
terlalu lama untuk menghindari penumpukan gigi. Mama bisa membantu anak
melepaskan giginya tanpa menarik paksa gigi karena dikhawatirkan dapat
menimbulkan infeksi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu agar
gigi goyang bisa segera copot/tanggal tanpa harus menyakiti dan memaksa. Salah satu caranya mama bisa meminta tolong anak agar dia mendorong giginya yang goyang
dengan lidah atau tangannya yang bersih (mendorong disini bukan menarik paksa
yaa). Ketika gigi susu sudah nyaris lepas bisa juga digunakan alat bantu
seperti benang sehingga gigi susu tersebut dapat ditarik perlahan-lahan (jangan
dipaksa), untuk mengukur tingkat kesakitan anak saat ditarik giginya. Atau bisa
juga menggunakan makanan seperti apel atau ayam goreng, minta anak untuk
menggigit makanan tersebut dan lihat apakah giginya dapat lepas. Untuk membantu
mengurangi sakit dapat juga digunakan es krim yaa.. Alternatif terakhir adalah
membawa anak ke dokter gigi, apalagi saat gigi permanen sudah terlanjur tumbuh
sementara gigi susunya masih belum tanggal/copot. Penumpukan gigi tersebut dikhawatirkan
bisa merusak struktur gigi anak kedepannya.
Sekian sharing
pengalaman dan informasi mengenai pergigian, mudah2an bermanfaat bagi pembaca. Semoga
kedepannya saya dapat menulis cerita dan informasi dengan tema mengenai hal-hal
seperti kali ini, karena menurut saya, sebagai seorang ibu, topik pembicaraan
yang paling seru dan menyenangkan pastinya adalah seputar perkembangan anak-anak
kita.

Foto anak2nya mana bu..?
ReplyDelete